Ini Penjelasan Resmi Pemkot Manado Terkait Banjir dan Tanah Longsor

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Manado mengeluarkan rilis resmi terkait bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi pada Jumat (01/02) lalu.

Berikut petikan rilis tersebut:  Kota Manado, Jumat (1/2) terdampak banjir karena hilir dari 5 Sungai yang melintasi kota (Sungai Bailang hulunya Mapanget, Sungai Tondano hulunya Tondano Minahasa, Sungai Tikala hulunya Sawangan Minahasa, Sungai Sario hulunya Tinoor dsk Minahasa, Sungai Malalayang hulunya Winangun-Sea).

Upaya penanggulangan bencana telah dilakukan dari jajaran Pemprov-Pemkot-Camat-Lurah-Pala, semua bekerja bersama untuk Kota Manado sebagai ibu Kota Provinsi.

Pemkot Manado, siaga dan bergerak mulai dari monitoring C3 utk Early Warning Sistem, aplikasi 112 dan Qlue untuk menerima pengaduan standby 24 jam. WA Group Perangkat Daerah siaga melaporkan hasil pantauan dan pergerakan para Pala-Lurah-Camat yang dikomando langsung oleh Walikota-Wakil Walikota-Sekda.

Walikota-Wakil Walikota-Sekda turun langsung memantau dilapangan, mengunjungi korban dan memberi instruksi tanggap darurat. Dapur Umum mobile dibuka oleh Dinas Sosial, PU sigap dengan longsor, Damkar menyemprot membersihkan jalan, Dinas Kesehatan standby dan kerja ekstra di Puskesmas.

Karena air mengalir dari hulu sampai hilir, maka tak ada yang diam untuk banjir Manado dalam kondisi tanggap darurat ini.

Mari kita taati Tata Ruang dar iHulu-Tengah-Hilir karena dengan pertambahan penduduk banyak alih fungsi lahan, cathment area berkurang maka air meluncur bebas dari tempat tinggi ke rendah.

Program revitalisasi Sungai Tondano sedang berjalan namun memenuhi kendala pembebasan lahan. Sudah di lebarkan 30 M dan dibuat tanggul namun belum semuanya tertanggul. Bendungan Kuwil yang multifungsi sementara dalam pembangunan, salah satu fungsinya sebagai pengendali banjir kota manado untuk sungai tondano. Jika berbicara 5 sungai yang melintasi Kota Manado, tentunya dibutuhkan kerjasama lintas kabupaten kota, Provinsi bahkan Nasional karena 5 sungai itu masuk dalam Wilayah Sungai Nasional. Jika dalam teori agar aman harus menaati GSS (Garis Sempadan Sungai) sesuai Perwako No 55 Tahun 2014 tentang Garis Sempadan Sungai serta Pemanfaatannya di Kota Manado, namun secara praktek banyak masalah sosial didalamnya yaitu antara lain masih banyak warga yang mendiami kawasan yang seharusnya menjadi jalur hijau. Untuk itu diharapkan juga kesadaran masyarakat untuk menaati peraturan dan tata ruang.

Dalam RTRW , bab IV Pola Ruang Wilayah Kota, untuk kawasan lindung terdiri dari :

pasal 31. a. Kawasan yang memberikan perlindungam terhadap kawasan bawahannya yaitu: Kawasan resapan air kota ditetapkan pada kemiringan lereng 40 % tidak bisa dilakukan aktivitas permukiman.

Psl 31.b. Kawasan Perlindungan Setempat yaitu: sepadan pantai, sepadan sungai.

Sepadan sungai yang tidak bertalud di 5 sungai besar kota Manado GSS 15 meter. Ini yang banyak tidak dipatuhi masyarakat yg mengakibatkan longsor dan banjir jika air sungai meluap.

Sesuai laporan yang masuk, dampak banjir terparah terjadi di Kecamatan. Tuminting dan Kecamatan. Bunaken walaupun wilayah ini tidak dilalui aliran DAS Tondano.

Data sementara dampak banjir dan tanah longsor di kota manado 1 Februari 2019:

8 Kecamatan, 23 Kelurahan, 737 kk, 2.523 jiwa

Korban meninggal dunia:

1.Jhon Duarmas /L/54thn (korban longsor)

Kelurahan Taas Lk. 3 Kec Tikala

2.Natalia Lapian/P/1thn (korban longsor) Kel. Mahawu Kec. Tuminting

3.Richard Patabone/L/5thn (korban banjir/hanyut) Kelurahan Kombos Timur Lk. 3

4. Hidayat Lahamendu umur 29 tahun /L/Bailang

Empat penerbangan ke Manado juga dibatalkan yaitu Citilink QG307 rute Makassar-Manado, Lion Air JT778 rute Makassar-Manado, Garuda GA684 rute Makassar-Manado, dan Lion Air JT740 Makassar-Manado.

Oleh karena itu Pemerintah Kota Manado menghimbau untuk TIDAk membangun di sempadan sungai dan bukit dengan kemiringan diatas 40 % tanpa tindakan teknis.

Bagi warga yang membutuhkan bantuan untuk segera menghubungi 112 karena para operator standby menerima laporan di Manado Command Center 1×24 dan siaga menerima laporan serta mengkoordinasikan dengan pihak terkait untuk proses evakuasi dan pengiriman bantuan.

“Bersahabatlah dengan alam, maka alam akan bersahabat dengan kita. Mari berdoa dan bekerja..Kita Tidak Sendiri. Tuhan Beserta Kita,” ujar Kabag Humas Pemerintahan dan Humas Setda Kota Manado. (*)

Editor : stephen (MR)