Soal Galian Pasir di Sungai, Katihokang dan Pondaag Terkejut Ada Kesepakatan Antara Kumtua Desa Teep Dengan Kapitu

Amurang, MR – Galian pasir di sungai yang membatasi Desa Teep dan Desa Kapitu, Kecamatan Amurang Barat, terus dipertanyakan warga, apalagi kegiatan tersebut kabarnya pernah dilaporkan Hukum Tua (Kumtua) Desa Teep ke pihak kepolisian.

Material pasir dari aktifitas galian pasir liar itu di tampung di halaman rumah Kepala Jaga Satu.

Informasi yang dihimpun manadoreal.com menyebutkan kegiatan galian pasir itu awalnya di tolak Pemerintah Desa (Pemdes) Teep dan masyarakat.

Pasalnya, galian pasir tersebut bisa mengakibatkan bantaran sungai menjadi rusak termasuk berpengaruh pada konstruksi jalan dan jembatan yang ada di tengah perkampungan Desa Teep, yang sering dilalui kendaraan bermuatan berat.

Melihat hal itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kumtua Desa Teep Grace Sangian memerintahkan Sekretaris Desa dan Sekretaris BPD serta Kaur Pemerintahan Meilan Eman segera memberhentikan aktifitas galian pasir di sungai tersebut.

Sekretaris BPD Harvy Pondaag saat itu langsung berkoordinasi dengan pemerintah dan perangkat desa dan melaksanakan rapat pembahasan serta memutuskan agar kegiatan tersebut dihentikan sambil menunggu keputusan BPD dan pemerintah serta perangkat Desa Teep.

Namun demikian, wartawan manadoreal.com mendapat informasi jika sudah ada kesepakatan antara Kumtua Desa Teep dan Kumtua Desa Kapitu terkait galian pasir di sungai yang dilakukan di kantor Camat Amurang Barat.

Saat dikonfirmasi lewat Sekretaris Desa Mimi Katihokang dan Sekretaris BPD Harvy Pondaag, keduanya mengaku terkejut.

“Keputusan itu nda melalui musyawarah dengan kami,”tegas Pondaag, di kantor BPU Desa Teep.

Disisi lain, Mimi Katihokang menjelaskan kronologis penolakan kegiatan tersebut.(nal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *